
1. Akar
Akar merupakan organ yang berada di bawah tanah. Akar berfungsi menyerap air dan mineral. Akar pada Tanaman Pinus merupakan akar tunggang (radix primaria) tapi juga bercabang – cabang. Struktur akarnya kuat, mencengkeram tanah, dan berwarna cokelat. Memiliki akar lembaga yang akan terus tumbuh menjadi akar pokok yang bercabang – cabang dan menjadi akar – akar yang lebih kecil. Hal ini menyebabkan daerah perakaran menjadi luas dan jangkauan penyerapan air, unsur hara juga semakin luas. Pada akar Tumbuhan Pinus memiliki runcat.

2. Batang
Batang pada Tanaman Pinus merupakan pohon yang mempunyai kayu yang keras. Pohon Pinus ini jika dilihat dari kejauhan akan tampak seperti berbentuk kerucut atau lima segitiga yang memanjang. Batang Pohon Pinus ini memiliki bagian bawah yang besar dan semakin ke atas sampai puncaknya mengecil.Batang tanaman pinus tegak lurus dan berukuran besar, mempunyai runcat atau berkas pengangkut. Berkas pengangkutnya tersusun kolateral terbuka. Bentuk batang Pohon Pinus ini membulat, memiliki tajuk pohon muda menyerupai piramida, namun ketika sudah tua menjadi lebih menyebar dan rata. Arah tumbuh Pohon Pinus tegak lurus ke atas (erectus). Permukaan batang Pohon Pinus retak – retak dan berwarna kecoklatan. Percabangan batangnya bersifat monopodial, yaitu batang pokok (utama) tampak lebih jelas dan pertumbuhannya lebih cepat daripada batang cabang – cabangnya. Pohon Pinus dapat tumbuh tinggi sampai lebih dari 20 meter dengan diameter sampai 70-90 cm. Semakin tua pohon pinus dapat tumbuh sampai diameter 100-145 cm.

3. Daun
Daun pada Tanaman Pinus termasuk ke dalam daun majemuk (folium compositum). Pada daun Pinus ini tidak ada bagian terlebar, karena pangkal dan ujung hampir sama ukurannya. Sedangkan panjang daun sekitar 10-20 cm. Daun Pinus memiliki ujung daun (apex folii) berbentuk meruncing (acuminatus), -Memiliki pangkal daun (basis folii) berbentuk runcat/ rata (runcates) dengan diselubungi sisik berupa selaput tipis. Dan juga memiliki tepi daun (margo folii) berbentuk rata (integer). Serta ranting daun berukuran pendek seperti jarum. Warna daun Pinus merkusii bervariasi, ketika masih muda maka berwarna hijau muda, namun ketika sudah tua akan berwarna hijau tua. Bentuk tulang daun pada tumbuhan pinus seperti jarum. Permukaan daun pada tumbuhan pinus halus.

4. Bunga
Bunga pada Tanaman Pinus termasuk ke dalam bunga berkelamin tunggal (unisexualis). Pada Tanaman Pinus Bakal bijinya tidak terlindungi oleh daun buah. Bunga Pinus ini terbagi menjadi dua, yaitu bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan memiliki bentuk silindris dengan panjang sekitar 2-4 cm. Sedangkan bunga betina memiliki bentuk kerucut, ujungnya runcing, memiliki sisik, berwarna cokelat, dan setiap bakal biji terdapat sayap, serta terletak di sepertiga bagian atas tajuk terutama di ujung dahan. Bunga Pinus ini pada umumnya berwarna kuning ketika muda dan berwarna kecoklatan ketika sudah tua.

5. Buah
Buah pada Tanaman Pinus yaitu Buah Pinus mempunyai bentuk kerucut, namun ada juga yang silindris. Bentuknya seperti pohon natal tapi kecil. Mempunyai panjang sekitar 5-10 cm dan lebar sekitar 2-4 cm. Buah Pinus ini pada umumnya berwarna cokelat dan termasuk buah semua yang tidak dapat dimakan.

6. Biji
Biji pada Tanaman Pinus berbentuk pipih dan bulat telur (oval) dan dilengkapi dengan sayap yang dihasilkan pada setiap dasar bunga (recetaculum) atau dari sisik buah. Pada setiap sisik buah menghasilkan dua biji, dan warna biji Pinus umumnya putih kekuningan.

Pohon pinus memiliki akar tunggang dengan sistem perakaran yang cukup dalam dan kuat sehingga dapat tumbuh di tanah yang dalam/tebal dengan tekstur tanah ringan sampai sedang. Jenis Pinus merkusii juga tidak memiliki syarat tinggi untuk jenis tanah tempat tumbuhnya karena pohon pinus dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah bahkan pada tanah dengan ph asam. Pinus merkusii dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, namun tempat tumbuh terbaik bagi jenis pohon pinus ini berada pada ketinggian tempat antara 400-2000 mdpl. Pohon pinus yang ditanam pada ketinggian tempat kurang dari 400 mdpl akan menyebabkan pertumbuhannya tidak optimal karena suhu udara yang terlalu tinggi. Selain itu, pertumbuhan pohon pinus yang ditanam di ketinggian tempat lebih dari 2000 mdpl juga tidak akan optimal karena terhambatnya proses fotosintesis.

a. Reproduksi seksual (generatif)
Pada Tumbuhan Pinus reproduksi seksualnya yaitu dengan pembuahan tunggal dan alat perkembangbiakan generatifnya adalah strobilus. Pada tumbuhan pinus terdapat dua jenis strobilus dalam satu pohon yaitu strobilus jantan dan strobilus betina. Kerucut sporofit jantan mengandung mikrosporangia yang kemudian membelah secara meiosis untuk menghasilkan gametofit jantan. Pada pembelahan meiosis tersebut mikrosoprangium diploid membelah menghasilkan 4 mikrospora haploid yang kemudian berkembang menjadi serbuk sari jantan. Kerucut sporofit betina mengandung megasporangia yang kemudian membelah secara meiosis untuk menghasilkan gametofit betina. Pada pembelahan meiosis tersebut terjadi di kerucut ovulasi dan menghasilkan 4 megaspora haploid.

b. Reproduksi aseksual (vegetatif)
Tumbuhan pinus dapat berkembangbiak secara aseksual yaitu dengan menggunakan tunas akar.

a. Syarat Tumbuh Pohon Pinus
Pohon pinus dapat tumbuh dimana saja, namun pohon pinus akan tumbuh dengan baik pada daerah dengan ketinggian sekitar 400 mdpl hingga 1500 mdpl yang memiliki curah hujan sekitar 2000 mm/tahun. Jenis tanah yang baik untuk menanam atau budidaya pohon pinus ini yaitu tanah yang bertekstur sedang ataupun ringan.
b. Persiapan Pembibitan Pohon Pinus
Perbanyakan pohon pinus dapat dilakukan dengan mengambil benih dari bunga pinus kering di pohon. Memilih bunga yang baik, memiliki warna kulit buah menguning hampir kecoklatan dan berbintik hitam, bentuk bunga bulat, padat, dan tidak mengkerut. Mengeluarkan biji dari dalam bunga, setiap bunga kering berisi sekitar 45.000-60.000 butir biji/kg.Biji tersebut kemudian direndam dalam air selama 3-4 jam sebelum disemai.Memilih benih yang tenggelam dan buang yang mengapung. Menyemaikan benih pada media persemaian yang dibuat dari campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 1 : 2 yang telah di jemur selama 4-6 jam dibawah terik matahari. Memasukkan media pada bak semai setinggi 5 cm. Kemudian, menaburkan benih diatasnya dan dipindahkan bak di tempat yang teduh dan terhindar dari hujan dan panas matahari. Setelah 10 hingga 15 hari maka benih akan berkecambah. Setelah berumur sekitar 5-8 minggu atau sudah memiliki daun jarum pertama maka dilakukan perawatan dan pemeliharaan. Selain dengan menggunakan biji benih, pembibitan dapat dilakukan dengan cara stek dan cangkok.Melakukan penyiraman pada bibit secara teratur setiap hari yaitu pada pagi dan sore hari. Meletakkan persemaian pada naungan agar terhindar dari air hujan dan panas matahari secara langsung. Melakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk NPK setiap 2 minggu sekali. Melakukan penyulaman jika ada bibit yang mati. Melakukan pula penyiangan pada gulma atau tanaman pengganggu lainnya.
c. Persiapan Lahan Tanam Pinus
Lahan yang akan dijadikan tempat budidaya pinus diolah terlebih dahulu. Menaburkan kompos atau pupuk kandang pada lahan tanam sekitar 2 ton/hektar. Pemberian pupuk dasar tersebut dilakukan 3-4 minggu sebelum tanah digemburkan dengan dijajak atau dicangkul. Jika tanah ber-pH rendah maka ditambahkan kapur dolomit agar pH tanah menjadi netral. Setelah itu, diamkan tanah selama 2-3 minggu sebelum ditanami.
d. Penanaman Pohon Pinus
Melepaskan bibit dari kantong plastik persemaian, lalu meletakkan pada lubang yang telah disiapkan. Memastikan posisi tanam tegak dan meletakkan dengan perlahan agar akar tidak rusak. Menutup kembali lubang tanam dan padatkan media tanam disekitarnya. Kemudian melakukan penyiraman agar kelembaban tanah tetap terjaga.
e. Pemeliharaan Pohon Pinus
Melakukan penyulaman pada bibit yang mati atau tumbuh tidak sempurna dengan bibit yang baru agar pohon tumbuh seragam. Melakukan penyiangan pada gulma atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh disekitar tanaman muda. Jika tanah sudah terlalu padat dan drainase buruk maka segera lakukan pendangiran. Jika tanaman terserang hama dan penyakit maka segera lakukan penanganan dengan cara memberikan pestisida dengan dosis yang sesuai.
Agar pinus dapat tumbuh optimal dengan melakukan pemilihan dan penebangan tanaman yang kurang produktif maka dilakukan penjarangan tanaman. Jika terjadi kebakaran di areal tanam, segera lakukan pengendalian dengan cara memutus jalur api searah radius rambatan api.
f. Masa Panen Pinus
Setelah berumur 10 tahun, pinus sudah mulai bisa diambil getahnya. Sedangkan untuk kebutuhan kayu mebel sebaiknya pemanenan dilakukan setelah pohon pinus berumur 30 tahun atau pinus sudah memiliki ketebalan kayu sekitar 238-322 m3/hektar dan untuk kayu pulp pemanenan dapat dilakukan pada umur 10-15 tahun.
a. Ekonomi
b. Kesehatan
c. Industri
Penanaman Pohon Pinus di Pulau Jawa pada tahun 1970-an pada mulanya ditujukan untuk mereboisasi tanah kosong. Selain itu juga ditujukan sebagai persiapan untuk memenuhi kebutuhan kayu pada industri kertas. Namun, dalam perkembangannya timbul upaya untuk mendapatkan hasil lainnya berupa getah. Getah pinus yang disadap tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan gondorukem dan terpentin yang merupakan bahan baku industri lanjutan. Gondorukem digunakan sebagai :
Terpentin dimanfaatkan sebagai :
d. Lingkungan atau ekosistem
Lingkungan SMA Negeri 7 Purworejo
https://agrotek.id/klasifikasi-dan-morfologi-tanaman-pinus/
https://www.faunadanflora.com/panduan-lengkap-cara-menanam-budidaya-pohon-pinus/
https://www.perhutani.co.id/manfaat-pohon-pinus-untuk-kesehatan-dan-industri-penting-diketahui/
https://www.gbif.org/species/5285119
Guru Pembimbing: Dra. Asiyah
Konten: Nandita Agustin Smestya Lukito (X MIPA 5)
Editor: Zahra Aptari
Admin: Risang Palgunadi, S. Hum.; Sophia Saphira
TA 2021/2022