Tanjung Pustaka SMA Negeri 7 Purworejo

Berwawasan Global Berkepribadian Nasional Berprestasi Handal

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Syzygium cumini (Duwet)


 

 

 

KLASIFIKASI TANAMAN DUWET

  1. Kingdom : Plantae
  2. Divisi : Tracheophyta
  3. Kelas : Magnoliopsida
  4. Ordo : Myrtales
  5. Famili : Myrtaceae
  6. Genus : Syzygium
  7. Spesies : Syzygium cumini (L.) Skeels



 

MORFOLOGI TANAMAN DUWET

1. Akar

          Duwet berakar tunggang.  Akar tunggang adalah akar utama yang tumbuh dari biji, tegak ke bawah dan dari akar tersebut keluar cabang akar. Sistem perakaran tunggang dimiliki oleh tanaman dikotil dan tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae). Ciri-ciri akar ini adalah berbentuk lurus ke bawah dan akan terus tumbuh memanjang serta membesar. Akar lembaga pada tumbuhan yang berakar tunggang akan berkembang jadi akar pokok. Lalu, akar akan berkembang lagi jadi bercabang dan berukuran lebih kecil. Akar tunggang hanya dijumpai jika tumbuhan ditanam dengan biji. Walaupun dari golongan dikotil (dicotyledoneae), suatu tumbuhan tak akan mempunyai akar tunggang jika tidak ditanam dari biji. Misalnya, pada berbagai jenis tanaman budidaya yang diperbanyak dengan cangkokan atau turunan (stek). Fungsi tambahan yang dipunya akar tunggang, yakni sebagai tempat menyimpan makanan.  Akar pada tumbuhan berakar tunggang ini juga cenderung menyirip atau sejajar, tidak memiliki tudung akar serta berkambium. Akar pada tumbuhan dikotil ini sangat kuat serta pada jenis tumbuhan tertentu juga bisa dijumpai terbentuknya akar cabang yang menyebar ke arah samping.

 

 

2. Batang

          Batang tumbuh dari tanah dan cenderung single stem alias berbatang tunggal. Pohon yang kokoh, berkayu, diameter 10-30 cm, berwarna putih kotor, dan tidak menggugurkan daun. Kadang-kadang berbatang bengkok, tinggi hingga 20 m dan gemang mencapai 90 cm. Bercabang rendah dan bertajuk bulat atau tidak beraturan. Cabang berbentuk bulat dan berkayu serta terkenal kuat. Percabangan setelah cabang utama, terlihat menyebar dan membentuk kanopi dekat. Percabangan terlihat membentuk ranting yang dipenuhi bunga dan buah. Batang pohon mempunyai ciri khas kokoh dan tumbuh menjulang. Pohon duwet dapat tumbuh pada kisaran 10 hingga 20 meter. Selain kokoh dan tinggi, batangnya juga cukup tebal dan pertumbuhannya sering bengkok dengan percabangan yang cukup banyak.

 

 

3. Daun

          Daun pada Syzygium cumini atau Duwet termasuk daun tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai daun alias petiolus dan helaian daun alias lamina. Daun-daunnya terletak berhadapan, bertangkai 1-3,5 cm. Helaian daun bundar telur terbalik agak jorong sampai jorong lonjong, 5-25 x 2–10 cm, pangkalnya lebar berbentuk pasak atau membundar, ujung tumpul atau agak melancip, bertepi rata, menjangat tebal dengan tepi yang tipis dan agak tembus pandang. Hijau tua berkilat di sebelah atas, daun duwet agak berbau terpentin apabila diremas. Daun yang muda berwarna merah jambu. Pertulangannya menyirip. Permukaan daun Syzygium cumini adalah licin alias laevis dan permukaan daun terlihat mengkilat. Sisi daun atas dan bawah sama sama licin.

 

 

4. Bunga

          Tipe pembungaan dari duwet termasuk planta multiflora alias tumbuhan berbunga banyak. Bunga pada tanaman terletak pada ketiak daun atau flos lateralis dan bunga majemuk yang bersifat pleiochasial. Karangan bunga dalam malai atau malai rata, renggang, hingga tiga kali bercabang, umumnya muncul pada cabang-cabang yang tak berdaun. Bunga kecil, duduk rapat-rapat, 3-8 kuntum di tiap ujung tangkai, berbau harum. Daun kelopak bentuk lonceng melebar atau corong, tinggi 4-6 mm, kuning sampai keunguan. Daun mahkota bundar dan lepas-lepas, 3 mm, putih abu-abu sampai merah jambu, mudah gugur. Benang sari banyak, 4–7 mm; putik 6–7 mm.  Bunga dari Syzygium cumini berbentuk bunga majemuk berbatas inflorescentia cymosa dengan anak payung menggarpu atau dichasium. Bunga dari Duwet termasuk bunga lengkap alias flos completus karena memiliki tangkai bunga atau pedicellus, dasar bunga atau receptalum, kelopak bunga calyx dan mahkota bunga atau petala.  Bunga Duwet juga memiliki alat kelamin yang lengkap, Alat kelamin dan roecium dan alat kelamin betina. Bunganya termasuk bunga berkelamin dua alias hermaphroditus.   

 

 

5. Buah dan Biji

          Buah duwet berbentuk lonjong sampai bulat telur, sering agak bengkok, 1–5 cm, bermahkota cuping kelopak, dengan kulit tipis licin mengkilap, merah tua sampai ungu kehitaman, kadang-kadang putih. Sering dalam gerombolan besar. Daging buah putih, kuning kelabu sampai agak merah ungu, hampir tak berbau, dengan banyak sari buah, sepat masam sampai masam manis. Biji lonjong, sampai 3,5 cm. Buahnya ada yang tak berbiji, ada juga yang berbiji dengan batas jumlah 5. Buah jamblang atau sering disebut dengan buah juwet ini mengandung senyawa kimia antara lain vitamin c, galic acid, tannin, golongan antosianin, Cyanidin, petunidin, dan malvidin. Buah duwet mengandung vitamin C terbanyak kedua setelah jambu monyet. Kandungan vitamin C pada buah duwet dapat menyebabkan rasa asam yang dikonsumsi. Vitamin C pada buah ini juga dapat berfungsi sebagai antioksidan.

 

 

 

 

REPRODUKSI TANAMAN DUWET

a. Reproduksi Generatif

         Cara reproduksi duwet yaitu dengan cara generatif menggunakan biji. Reproduksi secara generatif yaitu cara perkembangbiakan tumbuhan yang bisa dilakukan oleh tumbuhan itu sendiri dan dengan cara yang alami. Reproduksi generatif diawali oleh peleburan sel gamet jantan dan gamet betina. Gamet adalah sel yang diproduksi oleh organisme untuk tujuan reproduksi seksual. Pada tumbuhan tingkat tinggi diawali dengan proses penyerbukan dan persarian. Alat reproduksi pada tumbuhan tingkat tinggi ada dua, yakni berupa strobilus (pada tumbuhan biji terbuka) dan berupa bunga (pada tumbuhan biji tertutup).

 

 

b. Reproduksi Vegetatif

          Cara reproduksi vegetatif Duwet yaitu dengan cangkok, sambung pucuk, dan okulasi atau penempelan. 

 

 

1. Cangkok 

          Mencangkok adalah perkembangbiakan vegetatif dengan cara mengupas ranting pohon yang sudah besar sampai terlihat kambiumnya. Bagian kambium kemudian ditutup tanah, humus, dan terakhir dilapisi plastik kemudian diikat. Tujuan dari mencangkok adalah memperoleh tumbuhan baru yang dapat berbuah dengan cepat, tetapi sifatnya masih sama seperti induknya. 

2. Sambung pucuk 

          Teknik sambung pucuk dilakukan dengan cara menggabungkan batang atas dan batang bawah. Batang bawah diharapkan menjadi batang yang tahan terhadap patogen tanah dan kokoh, sedangkan batang atas merupakan bagian yang memiliki karakter produksi yang diinginkan. Batang bawah ini biasanya menggunakan tanaman yang berasal dari biji sehingga memiliki perakaran yang kuat. Perpaduan dari bagian tanaman yang disatukan tersebut diharapkan akan menghasilkan tanaman jenis baru dengan sifat genetis yang memiliki keunggulan, yaitu kokoh, perakaran kuat, cepat berbuah, produktif, tahan penyakit dan mutu buah baik sesuai dengan sifat genetis induknya.

 

 

3. Okulasi 

          Okulasi adalah teknik perkembangbiakan vegetatif buatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas tanaman. Teknik perbanyakan vegetatif ini dilakukan dengan cara menempelkan sepotong kulit pohon beserta mata tunas dari batang atas, sehingga dapat tumbuh dan bersatu membentuk individu baru.


 

 

 

HABITAT TANAMAN DUWET

      Habitat Duwet dapat ditemui baik dibudidayakan/liar di Asia tropis dan Australia. Pohon jamblang (duwet) mempunyai daerah persebaran alaminya di Himalaya bagian subtropis, India, Sri Lanka, Malaysia dan Australia. Saat ini telah ditanam di seluruh kawasan tropika dan subtropika. Di Pulau Jawa, tumbuh liar di hutan jati dan dibudidayakan sebagai pohon buah di pekarangan. Pohon duwet biasanya tumbuh di kawasan dataran rendah dengan ketinggian kurang lebih 500 meter di atas permukaan laut, tetapi masih dapat tumbuh di daerah yang lebih tinggi dengan ketinggian mencapai 1800 meter di atas permukaan laut. Hal yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon duwet adalah kondisi curah hujan. Pada daerah dengan curah hujan sekitar 1000 mm per tahun, maka pohonduwet akan tumbuh dengan baik. Jamblang (duwet) tumbuh di dataran banjir, jenis ini toleran terhadap kekeringan dan dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah yang tidak subur, lahan basah dan tanah yang berdrainase bagus (tanah lempung, tanah liat berkapur, tanah berpasir dan tanah-tanah berkapur).

 

 

 

BUDIDAYA TANAMAN DUWET

a. Syarat Tumbuh 

          Pohon duwet tumbuh subur di wilayah tropis seperti Indonesia serta wilayah Asia Tenggara lainnya. Duwet atau jamblang berkembang secara optimal pada daerah dataran setinggi 500 hingga 1800 mdpl dengan curah hujan lebih dari 1000 mm per tahun. Tanaman ini toleran terhadap kondisi banjir, kekeringan, tanah yang kurang subur, lahan basah dan tanah berdrainase.

b. Persiapan Lahan dan Pot

          Pengolahan tanah untuk media penanaman dilakukan dengan membersihkan lahan tanam dari gulma dan taman pengganggu. Lokasi penanaman sebaiknya mendapat sinar matahari secara langsung tanpa naungan. Jarak lubang tanam budidaya duwet berukuran 50 x 50 x 50 cm. Tanah galian lubang dapat dicampur dengan kompos dan sekam untuk digunakan menutupi lubang tanaman. Selanjutnya, mendiamkan lubang tanam sekitar 2-3 hari agar bakteri pengganggu mati. Penanaman duwet juga dapat menggunakan media tanam berupa pot. Pot yang digunakan sebaiknya berukuran besar atau menyesuaikan dengan ukuran bibit yang ditanam. Media untuk mengisi pot sebaiknya berupa campuran tanah, pupuk kandang atau kompos dan sekam.

c. Persiapan Bibit Buah Duwet

          Bibit duwet dapat diperoleh melalui beberapa metode, yaitu okulasi, sambung pucuk, cangkok dan sistem per biji sebagai berikut: 

  1. Okulasi atau penempelan adalah teknik menggabungkan dua bagian tanaman yang berlainan sehingga menjadi utuh. Cara ini dapat dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 hingga 11.00, jika lebih dari itu maka daun tanaman akan layu.
  2. Sambung pucuk adalah metode penggabungan batang bawah dan batang atas tanaman duwet. Batang bawah sebaiknya berasal dari perkembangan biji, sedangkan bagian atas dipilih yang bersifat sehat dan unggul. Setelah itu dilakukan penyungkupan dengan menggunakan plastik untuk mengurangi penguapan sekitar 1 bulan. Setelah 3 atau 6 bulan, bibit dapat dipindah ke lahan tanam terbuka atau pot. 
  3. Metode cangkok dilakukan pada jenis tanaman yang sehat, telah berbuah dan umurnya di atas 7 tahun. Memilih batang yang baik kemudian mengikis dengan diameter 2 cm menggunakan pisau steril dan mendiamkan selama 1 jam agar getah mengering. Bungkus batang tersebut dengan kompos halus dan sabut kelapa, kemudian lakukan penyiraman setiap minggu agar kelembabannya terjaga. Setelah usia 3-4 bulan akar telah keluar. Membiarkan 2-3 bulan kembali agar tunas tanaman tumbuh kemudian pindah ke lahan tanam atau pot.
  4. Perbanyakan pohon duwet juga dapat diperoleh dari biji. Oleh karena itu diperlukan penyemaian terlebih dahulu. Akan tetapi cara pembibitan ini jarang digunakan karena menjadikan fase vegetatif nya lebih panjang sekitar 7 hingga 10 tahun agar tanaman dapat berbuah.

d. Proses Penanaman

          Setelah bibit siap, dilanjutkan dengan penanaman bibit. Langkah awalnya adalah melepas Polybag secara hati-hati agar akar tanaman tidak rusak. Selanjutnya memasukkan tanaman ke lubang tanam atau media tanam berupa pot. Posisi bibit harus tegak lurus, kemudian menimbun dengan campuran tanah, pupuk kandang atau kompos, serta sekam dengan sedikit pemadatan agar tidak mudah roboh.

e. Perawatan Pohon Duwet 

          Agar tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik, lakukan penyiraman ketika pagi dan sore hari terutama pada usia awal tanaman. Lakukan pemasangan ajir untuk menopang tanaman menggunakan bambu sepanjang 1,5 meter. Pemupukan juga diperlukan secara rutin setiap 1 bulan dengan menggunakan campuran pupuk NPK dan pupuk kandang atau kompos. Jika tanaman telah memasuki usia berbuah, kita dapat memberikan hormon perangsang buah agar pohon duwet cepat berproduksi.

 

 

 

MANFAAT TANAMAN DUWET

a. Ekonomi 

1. Pangan 

          Buah jamblang (duwet) biasa dimakan segar. Di India dan Filipina, seperti juga kebiasaan di beberapa daerah di Indonesia, buah duwet yang masak dicampur dengan sedikit garam dan kadang-kadang ditambah gula, lalu dikocok di dalam wadah tertutup (biasanya dua mangkuk ditangkupkan) sehingga lunak dan berkurang sepatnya. Buah ini dapat mengurangi noda di gigi. Buah yang kaya vitamin A dan C ini juga dapat dijadikan sari buah, jeli atau anggur.  Duwet bersifat sejuk, aromatik, dan bersifat astringen kuat. Bijinya bisa juga untuk mengobati strichnina (strychnine), yaitu sejenis penawar racun yang spesifik, dan mengobati pengobatan limpa. Hasil penelitian di India menunjukkan bahwa buah duwet berpotensi sebagai alat kontrasepsi untuk laki-laki. Kemudian, hasil penelitian juga menunjukkan biji, daun, dan pepagan duwet dapat menurunkan diabetes, yang dipertegas lagi dengan percobaan binatang yang menunjukkan tumbuhan ini mencegah katarak akibat diabetes.  Duwet mengandung minyak atsiri, jambosin, asam organik, triterpenoid, dan resin yang mengandung asam elagat, dan tanin. Praktisi Ayurveda menunjukkan bahwa daging buah menurunkan darah selama 30 menit, bijinya menurunkan gula darah dalam waktu 24 jam, dan hasil maksimum pencapaian efek hipoglikemik dalam waktu 10 hari. Beberapa bagian tumbuhan juga dipergunakan sebagai bahan obat, tradisional maupun modern. Kulit batang, daun, buah dan bijinya acap kali digunakan sebagai obat kencing manis, murus (diare), dan beberapa penyakit lain. 

          Bahkan simplisia dari kulit batang (dikenal sebagai Syzygii cortex) dan biji duwet (disebut Syzygii semen) dahulu dianjurkan sebagai sediaan apotek yang tidak wajib. Di samping tanin, bahan aktif yang dikandungnya antara lain adalah glikosida jamboline. Oleh pengobat tradisional di Amerika Selatan, duwet bersama ceremai belanda untuk mengurangi kerusakan jantung dan hati penderita kanker yang mendapat kemoterapi doxorubicin (doksorubisin). Duwet dan Eugenia caryophyllata mengandung senyawa yang dapat mengaktifkan enzim S-transferase di hati. Pada percobaan, enzim tersebut dapat menurunkan kejadian kanker lambung hingga 80%.  Sebagian wilayah di Asia Tenggara menggunakan akar duwet untuk mengobati epilepsi. Di Dataran Tinggi Gayo, duwet yang sering disebut nunang digunakan untuk mengobati mencret. Pohon duwet juga sering ditanam sebagai pohon peneduh di pekarangan dan perkebunan (misalnya untuk meneduhi tanaman kopi), atau sebagai penahan angin (wind break). Bunga-bunganya baik sebagai pakan lebah madu.

2. Papan 

          Di Filipina, anggur duwet diusahakan secara komersial. Kayunya dapat digunakan untuk bahan bangunan, meskipun tidak istimewa dan agak mudah pecah. Kayu ini cukup kuat, tahan air dan serangan serangga, sekalipun agak sukar dikerjakan. Yang terlebih sering ialah digunakan sebagai kayu bakar. Kulit kayunya menghasilkan zat penyamak (tanin) dan dimanfaatkan untuk mewarnai (ubar) jala. Kepingan kecil pepagan ini juga kadang-kadang dibubuhkan untuk menghambat keasaman tuak. Daunnya kerap digunakan sebagai pakan ternak.

b. Kesehatan 

1. Mencegah kelebihan kolesterol jahat di dalam tubuh

          Kelebihan kolesterol di dalam darah juga bisa dicegah dengan mengkonsumsi buah (biji dan daging buah) duwet. Buah duwet mengandung alfa phytosterol, sejenis steroid yang memiliki sifat mencegah kelebihan kolesterol atau anticholesteremic. 

2. Menyembuhkan luka diabetes. 

          Selain mencegah kelebihan kolesterol, duwet juga ampuh sebagai obat diabetes. Biji buah ini mengandung glukosida phytomelin. Zat ini dapat mengurangi kerapuhan pembuluh darah kapiler penyebab luka diabetes yang lama sembuhnya. Di dalam buah duwet juga banyak mengandung astringent, suatu zat yang dipercaya dapat membantu penyembuhan luka diabetes karena sifat astringent yang dapat menciutkan kulit. 

3. Mengobati diare

          Untuk mengobati diare bisa dengan menggunakan kulit dahan kering sekitar 1 jari, direbus dengan 2 gelas air mendidih sampai menjadi 1 gelas, airnya disaring dan langsung minum.

4. Sariawan

          Rebus kulit kayu atau daun duwet secukupnya. Setelah dingin, gunakan untuk berkumur-kumur. Lakukan 3-4 kali dalam sehari.

5. Menjaga Kesehatan Jantung

           Buah ini mengandung kalium yang membuat pembuluh darah menjadi rileks. Hal ini akan mencegah terjadinya hipertensi dan serangan jantung. Tak hanya itu, buah duwet memiliki kandungan tanin, yang bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol yang menjadi faktor risiko lain dari penyakit jantung.

6. Meningkatkan Kesehatan Tulang dan Gigi

          Dalam 100-gram buah duwet, terkandung 1,5-2 mg zat besi, 16 mg kalsium, 36 mg magnesium, dan 16,7 mg fosfor. Adanya kandungan tersebut membuat buah jamblang atau duwet bermanfaat untuk kesehatan tulang dan gigi.

7. Mengatasi Gangguan Pencernaan

          Bagi yang sering mengalami masalah pencernaan, mengonsumsi buah duwet bisa menjadi salah satu cara mengatasinya. Buah duwet mengandung serat yang tinggi. Jika dikonsumsi secara rutin, manfaat buah duwet yang bisa dirasakan, yakni mengatasi sembelit, gangguan usus, mual, diare, dan disentri.

8. Efek Antikanker

          Manfaat buah duwet yang satu ini didapatkan dari berbagai antioksidan di dalamnya. Peneliti berpendapat bahwa kandungan fitokimia bioaktif di dalam buah duwet, termasuk senyawa polifenol dan flavonoid, memiliki sifat antikanker dan kemo-preventif. Tak hanya itu, senyawa tersebut juga diduga efektif untuk menunjang pengobatan kanker, jantung, dan hati.

9. Menyehatkan Kulit

           Makanan kaya antioksidan bisa mengatasi berbagai masalah kulit. Buah duwet kaya akan vitamin A, C, E dan antioksidan lainnya. Kandungan ini bermanfaat menghidrasi kulit, menyamarkan noda hitam, dan memperlambat tanda-tanda penuaan.

c. Industri

          Saat ini, di pasaran mulai dikenal produk minuman dengan buah yang jarang ditemui di Indonesia, antara lain blackcurrant, pomegranate, barbados cherry, dan cranberry. Dari hasil kunjungan penulis ke berbagai industri minuman, diperoleh informasi bahwa konsentrat buah yang digunakan masih impor. Hal ini masih dapat dimengerti. Sayangnya, konsentrat buah-buahan yang produksinya melimpah di Indonesia seperti, buah unggulan (mangga, manggis, nanas, pepaya, pisang dan salak); buah konsumsi masyarakat (belimbing, duku, sawo, rambutan, semangka, dan 18 jenis buah lainnya); serta buah langka (binjai, cempedak, duwet, kawista, kesemek, dan 26 jenis buah lainnya). Penelitian dan pengembangan oleh para ahli, serta penerapan GAP, GHP, dan GMP yang berkesinambungan oleh para praktisi akan memperbesar peluang keberhasilan industri konsentrat buah di dalam negeri. Untuk mewujudkannya, tentu diperlukan manajemen agribisnis yang baik, tidak hanya pada tataran praktisi (industri) namun juga pada tataran pengambil kebijakan (pemerintah).

d. Lingkungan

  1. Sebagai produsen, tumbuhan berperan sebagai penyedia makanan bagi tumbuhan sendiri dan bagi makhluk hidup lain karena tumbuhan dapat melakukan fotosintesis. 
  2. Sebagai penjaga ketersediaan air karena akar pohon yang menembus di dalam tanah dapat mengikat air hujan yang jatuh ke tanah dan mampu menahan derasnya aliran sungai di permukaan.
  3. Sebagai penjaga permukaan lahan, dengan akar tumbuhan yang kuat dapat menjaga dan menahan agar tanah tidak erosi dan longsor.
  4. Sebagai penyerap karbon dioksida (CO₂), tumbuhan dapat menyerap karbon dioksida yang dikeluarkan oleh makhluk hidup lain yang dimanfaatkan tumbuhan sebagai sumber pem bentukan senyawa organik.
  5. Sebagai penghasil oksigen (O₂), tumbuhan menghasilkan oksigen dalam peristiwa fotosintesis, yang kemudian dimanfaatkan makhluk hidup lain untuk melakukan respirasi.

 

 

 

SUMBER

Lingkungan SMA Negeri 7 Purworejo

https://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Jamblang_102575_p2k-unkris.html

https://rimbakita.com/pohon-jamblang/

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jamblang

https://amp-kompas-com.

https://www.researchgate.net/figure/Gambar-53-Keragaman-Bentuk-Akar-Tunggang-Keterangan-a-Akar-lobak-b-Akar_fig3_338832817

https://www.gbif.org/species/3183840 

 

 

 


Guru Pembimbing: Dra. Asiyah

Konten: Gibran Laksmana Putra (X MIPA 2), Salsabila Listyarina (X MIPA 2), Ibnaty Salsabila Lirabbiha (X MIPA 5)

Editor: Zahra Aptari

Admin: Risang Palgunadi, S. Hum.; Sophia Saphira

 

TA 2021/2022

Tanjung Pustaka SMA Negeri 7 Purworejo
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Perpustakaan Tanjung Pustaka sudah terotomasi dan akses katalog online dengan menggunakan opensource SLiMS versi Bulian. Pemustaka juga bisa mengakses layanan Ebook di Digital Library dan mengunduh aplikasi Tanjung Pustaka E Library yang bisa diakses menggunakan Komputer dan Smartphone.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?